winerwin

Teh, bukan sembarang minuman!

Januari 28, 2007 · & Komentar

Teh dapat ditemukan di mana saja, mulai dari warteg, restoran, kafe, kantor, atau bahkan di rumah anda sendiri. Karena umum ditemui dan dapat dibeli dengan harga terjangkau, teh sering dianggap remeh orang. Teh dianggap hanya sebagai minuman yang pahit, bisa pula manis-manis dingin, atau sekedar minuman untuk menghangatkan tubuh.

Akhir-akhir ini banyak sekali bermunculan produk-produk minuman ringan yang membawa nama teh seperti Zeztea yang katanya minuman teh hijau menyehatkan, Fruit Tea yang katanya minuman ‘teh rasa buah’, dan berbagai produk minuman ‘teh’ botolan lainnya. Tidak sedikit yang menambahkan embel-embel ’sehat’, ‘menyegarkan’, dan ‘pakai madu’ pada produknya supaya dilirik pasar. Apakah anda juga penikmat minuman teh botolan itu? Pernah memperhatikan rasa-rasa dari sekian banyak produk tersebut? Ada satu hal yang pasti dari hampir semua produk teh botolan, yaitu mempunyai kadar gula yang cukup banyak. Rasa manis menjadi andalan para produsen teh botolan untuk menggaet konsumen. Ya, rasa apalagi yang paling digemari oleh konsumen kalau bukan rasa manis? Membuat minuman ringan tanpa gula bagaikan restoran yang menyajikan hidangannya tanpa penyedap rasa. Prinsipnya mudah: “Tidak enak, ya tidak laku”.

Saya merasa produk teh botolan tidak bisa mencerminkan rasa teh yang sesungguhnya sebagai minuman legendaris yang mempunyai tradisi dan sejarah beratus-ratus tahun. Rasa manis yang mendominasi produk menghilangkan hampir semua ciri khas kenikmatan teh. Dengan menumpang nama teh yang dikenal orang sebagai minuman berkhasiat, produsen teh botolan sebenarnya hanya menjual larutan gula ditambah pencita rasa teh atau ada yang juga ditambah pencita rasa madu atau buah yang dianggap masyarakat ‘enak’. Perhatikan: pencita rasa. Berarti hanya semacam senyawa yang memiliki rasa dan bau yang mirip dengan sebuah zat. Kalau pun ada produk yang benar-benar menggunakan daun teh, pastilah kadar tehnya sangat minim karena akan dicampur dengan rasa manis yang tinggi. Khasiat secangkir teh hangat sudah diakui para ahli sebagai anti-kanker, menyegarkan dan menghangatkan tubuh, meningkatkan daya tahan tubuh, dan banyak lagi; namun khasiat teh botolan yang cenderung digembar-gemborkan itu adalah diragukan.

Pada jaman dulu, teh adalah minuman tingkat atas kesukaan raja-raja dari Asia sampai ke Eropa. Sayangnya teh sebagai minuman berkelas turun drastis derajatnya karena penjualan produk-produk teh jadi-jadian atau penyajian teh yang sembarangan di tempat-tempat makan tertentu. Jangan sampai jika disebutkan kata teh, bayangan anda adalah minuman dingin dengan rasa manis yang tinggi; karena sejatinya teh adalah minuman yang diperoleh dengan melarutkan pucuk daun teh pilihan di air panas sehingga tecipta rasa teh yang menyegarkan dan alami. Teh bisa ditambah sedikit gula, namun bila terlalu banyak maka teh akan kehilangan cita rasa sesungguhnya.

Teh hangat, wangi, dan agak pahit adalah favorit saya. Membuat teh seperti itu tidak bisa asal campur air saja. Jika terlalu banyak air maka rasa teh akan hambar, jika teh sudah dingin maka rasa teh tidak bisa dinikmati secara maksimal lagi. Pernah mencoba membuat teh, kemudian didinginkan dikulkas? Saya pernah, dan rasanya sungguh tidak enak! Rasanya pahit, namun bukan pahit yang segar seperti yang diharapkan, namun pahit jenuh yang tidak enak. Wanginya pun sudah hilang sama sekali. Sangat tidak disarankan minum teh yang didinginkan.

Akhir kata, bedakan mana yang teh dan mana yang teh jadi-jadian. Pastikan anda menikmati cita rasa teh yang sesungguhnya!

Kategori: Uncategorized

9 tanggapan so far ↓

Tinggalkan sebuah Komentar