winerwin

Ubuntu, Mutiara yang Terabaikan

Februari 18, 2007 · & Komentar

Karena pengaruh doktrin wadehel yang kuat sekali, saya akhirnya terpengaruh mencoba melakukan aksi jihad melawan pembajakan software. Dengan nekat saya mencoba memesan satu paket berisi cd installer ubuntu di website www.ubuntu.com. Saya pikir kiriman paket itu akan lama sekali datangnya, mungkin bisa 6 bulan baru sampai karena tempat diadakannya pembagian paket gratis itu ada di Belanda. Ternyata dalam waktu 1 – 2 bulan paket berisi 5 buah cd installer ubuntu for pc, 3 buah cd ubuntu installer for 64 bit pc, dan 2 buah cd ubuntu installer for mac sampai.

Pertama kali saya mencoba versi live-cd ubuntu, dan kesan pertama saya operating system ubuntu ini menarik sekali. Terpesona saya melihat video wawancara dengan Nelson Mandela. Hanya saja ada kesan buruknya: speaker komputer butut saya tidak bisa berbunyi dengan sempurna. Speaker satelit kanan normal, namun satelit kirinya berbunyi “piiipp” yang tidak mengenakan telinga. Awalnya saya pikir, “Ah ini kan hanya live-cd, bukan versi betulannya, kalau sudah di-install ke harddisk mungkin bisa normal.” Tetapi dugaan saya salah. Setelah mencoba meng-install ke harddisk, masih saja tetap seperti itu. Kemudian saya mencoba membuka file mp3 dari partisi berformat NTFS bekas windows dulu, ternyata tidak bisa juga! Kemudian saya mencoba memainkan VCD dari cd-rom, ternyata tidak jalan!

Praktis saya tahu kalau menggunakan Linux memang tidak semudah menggunakan Windows yang sangat memanjakan penggunanya. Saya yakin semua persoalan saya diatas itu jika saya benar-benar berniat untuk mencari tahu solusinya, saya pasti akan dapat. Namun ternyata doktrin dari Om Bill terlalu kuat. Saya menjadi sangat malas mencari tahu solusi-solusi dari persoalan tersebut. Saya sadar kalau selama ini Windows terlalu memudahkan sehingga membuat penggunanya malas mencari tahu ini itu. Selalu terngiang dalam pikiran, “Wah cape nih pakai Linux! Sudah ada yang gampang, untuk apa cari susah? Toh pakai Windows juga anda tidak mati kan?” Saya jadi merasa sangat sayang meninggalkan software-software mutakhir yang selama ini bisa leluasa saya pakai dengan membajaknya tanpa malu. Niat awal sudah baik, ingin go open source, namun terbentur oleh tembok doktrin yang sejak lama tertanam dari awal saya menggunakan operating system ter-instan di dunia.

Biarpun begitu, dalam nurani saya tetap ada keinginan untuk go legal yang sepertinya akan susah sekali dilaksanakan. Mungkin kelak jika saya ada kesempatan lebih yang bisa dipakai untuk mengotak-atik komputer, saya akan gunakan untuk mengupas kemisteriusan Linux. Jika diibaratkan dengan jalan-jalan, menggunakan Windows sama saja dengan orang Singapura yang ingin pergi ke Bali menggunakan pesawat terbang, hanya beberapa jam saja sudah langsung sampai ke tempat tujuan dan menikmati Bali. Menggunakan Linux, seperti orang Singapura yang ingin ke Bali, namun tidak menaiki pesawat terbang, ia pertama-tama menyebrang dulu ke Batam dengan feri, menelusuri keindahan pulau Sumatra dengan mobil untuk melihat-lihat danau Toba, dan kebudayaan-kebudayaan di pula Sumatra yang kaya, lalu naik feri lagi melewati Selat Sunda di antara pulau Sumatra dan Jawa, di jawa ia naik mobil lagi melihat-lihat objek wisata Jawa seperti Ancol, Gunung Bromo, Candi Prambanan dan Borobudur, berkunjung membeli cindera mata di Yogyakarta dulu, baru akhirnya menyebrang Selat Bali hingga sampai ke Bali. Tujuan akhirnya memang sama, sama-sama ingin ke Bali, namun proses untuk sampai ke Bali itu yang membuat orang yang memilih menggunakan kendaraan mobil lebih berkesan dengan keindahan Indonesia. Ia jadi mendapat pengalaman ekstra, yang tidak mungkin didapat oleh si pelancong yang naik pesawat terbang. Demikian pandangan saya mengenai ubuntu yang belum lama ini kembali saya un-install. Ubuntu membuat rasa penasaran timbul, Windows terlalu memanjakan, semoga kelak rasa penasaran saya menjadi terlalu besar untuk kembali mencoba menggunakan Linux.

Kategori: Uncategorized

3 tanggapan so far ↓

  • helgeduelbek // Februari 19, 2007 pada 7:30 pm | Balas

    Sebenarnya tidak terlalu ribet kok, tergantung kemauan saja pak. Di panduan ubuntu indonesia sudah dibahas lumayan lengkap tinggal ngikuti saja untuk ini-itunya. Kebetulan PC saya berjalan normal, no problemlah. Pokoknya asyik saja sambil berpetualang disela-sela ngeblog.

  • Eko Prasetyo // November 3, 2007 pada 3:39 pm | Balas

    sebenernya mudah kok..
    yang pasti kenali dan coba..dan jangan lupa semangat belajar harus ada.
    spt kata org ‘alah bisa karena biasa’ dan ‘ tak kenal maka tak sayang’

  • x // Februari 9, 2009 pada 4:08 pm | Balas

    linux ndak hanya cuman ubuntu weee.. saya pake pclinuxos semuanya jalan (april 2008).. malah makin menyenangkan…. (2009 ini)

    padahal linux dan windows bisa didualOS kan dalam satu layar…

Tinggalkan sebuah Komentar