<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Komentar di: Guru-pun Takluk Kepada UN!</title>
	<atom:link href="http://winerwin.wordpress.com/2007/03/07/guru-pun-takluk-kepada-un/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://winerwin.wordpress.com/2007/03/07/guru-pun-takluk-kepada-un/</link>
	<description>feel free to browse around!</description>
	<lastBuildDate>Sun, 08 Nov 2009 18:10:58 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>Oleh: fertobhades</title>
		<link>http://winerwin.wordpress.com/2007/03/07/guru-pun-takluk-kepada-un/#comment-120</link>
		<dc:creator>fertobhades</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 15 Mar 2007 16:47:48 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://winerwin.wordpress.com/2007/03/07/guru-pun-takluk-kepada-un/#comment-120</guid>
		<description>Terlalu sering kita mengutamakan orientasi NILAI daripada orientasi PROSES dalam pendidikan. Dan UN adalah bukti keberpihakan &quot;negara&quot; pada NILAI semata.

Sementara pendidikan sangat luas jangkauannya jika hanya dikekang dengan sekedar angka yang tertulis di raport.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Terlalu sering kita mengutamakan orientasi NILAI daripada orientasi PROSES dalam pendidikan. Dan UN adalah bukti keberpihakan &#8220;negara&#8221; pada NILAI semata.</p>
<p>Sementara pendidikan sangat luas jangkauannya jika hanya dikekang dengan sekedar angka yang tertulis di raport.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: winerwin</title>
		<link>http://winerwin.wordpress.com/2007/03/07/guru-pun-takluk-kepada-un/#comment-116</link>
		<dc:creator>winerwin</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 10 Mar 2007 09:54:26 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://winerwin.wordpress.com/2007/03/07/guru-pun-takluk-kepada-un/#comment-116</guid>
		<description>Tambahan lagi, ada seorang teman saya yang berkelakar menanggapi kejahatan UN seperti ini, &quot;Hayo, mana yang lebih dekat dengan angka 2, apakah 1,9 atau 2,1? 



Jawabannya 2, karena 2,1 itu kan ada angka duanya didepan.&quot;

Anda masih bisa tertawa? Ya, spontan mungkin anda bisa, namun pikiran kritis anda akan sangat kecewa.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Tambahan lagi, ada seorang teman saya yang berkelakar menanggapi kejahatan UN seperti ini, &#8220;Hayo, mana yang lebih dekat dengan angka 2, apakah 1,9 atau 2,1? </p>
<p>Jawabannya 2, karena 2,1 itu kan ada angka duanya didepan.&#8221;</p>
<p>Anda masih bisa tertawa? Ya, spontan mungkin anda bisa, namun pikiran kritis anda akan sangat kecewa.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: winerwin</title>
		<link>http://winerwin.wordpress.com/2007/03/07/guru-pun-takluk-kepada-un/#comment-115</link>
		<dc:creator>winerwin</dc:creator>
		<pubDate>Sat, 10 Mar 2007 09:44:29 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://winerwin.wordpress.com/2007/03/07/guru-pun-takluk-kepada-un/#comment-115</guid>
		<description>Pertanyaan bagus Pak Arif, saya tidak beri contoh nyata soalnya, namun kira-kira seperti ini:

Kita diberi teks bacaan, sebuah cerita pendek misalnya,  kemudian diberikan pertanyaan mengenai bacaan itu seperti:
1. Apa pendapat yang tepat mengenai bacaan tersebut?
2. Apa pesan moral yang bisa didapat dari bacaan diatas?
Dan pastinya dalam pikiran kita bisa jadi jawaban pembuat soal berbeda dengan jawaban kita. Pikiran manusia jelas beda-beda, penyamarataan pikiran merupakan pelanggaran HAM tidak ya?

Ada pula soal mengenai struktur-struktur surat, memo, surat perjanjian, aturan-aturan karya ilmiah, dan hukum-hukum bahasa lainnya yang menurut saya dengan menghafal aturan itu kita tidak bisa jadi pintar. Membuat surat dengan rapih memang baik, bagaimana jika kita lupa aturannya? Tidak masalah bukan? Membuat karya ilmiah sesuai prosedur memang baik, bagaimana jika kita lupa beberapa struktur urutannya? Buku penuntun karya ilmiah dibuat untuk itu bukan?

Diberikan pula suatu bacaan puisi, kita disuruh memilih satu dari antara 5 pilihan perasaan apa yang ada dalam puisi tersebut? Dalam pilihan gandanya banyak sekali jawaban mirip seperti: menggebu-gebu, semangat, dll --- dan inilah contoh nyata kejahatan pendidikan, membunuh secara terang-terangan pikiran peserta didik. Kenapa pembuat soal terlalu memaksakan pikirannya? Sungguh egois dan sadis bukan.

Dan banyak lagi kejanggalan-kejanggalan lainnya, seperti yang dikatakan Pak Urip diatas, struktur Bahasa Indonesia sangat ditekankan. Terkesan murid dianggap sebagai ahli bahasa yang setiap hari berkutat dengan struktur kebahasaan. Salah struktur kebahasaan bukan masalah, salah mengartikan arti pembelajaran adalah masalah sesungguhnya</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Pertanyaan bagus Pak Arif, saya tidak beri contoh nyata soalnya, namun kira-kira seperti ini:</p>
<p>Kita diberi teks bacaan, sebuah cerita pendek misalnya,  kemudian diberikan pertanyaan mengenai bacaan itu seperti:<br />
1. Apa pendapat yang tepat mengenai bacaan tersebut?<br />
2. Apa pesan moral yang bisa didapat dari bacaan diatas?<br />
Dan pastinya dalam pikiran kita bisa jadi jawaban pembuat soal berbeda dengan jawaban kita. Pikiran manusia jelas beda-beda, penyamarataan pikiran merupakan pelanggaran HAM tidak ya?</p>
<p>Ada pula soal mengenai struktur-struktur surat, memo, surat perjanjian, aturan-aturan karya ilmiah, dan hukum-hukum bahasa lainnya yang menurut saya dengan menghafal aturan itu kita tidak bisa jadi pintar. Membuat surat dengan rapih memang baik, bagaimana jika kita lupa aturannya? Tidak masalah bukan? Membuat karya ilmiah sesuai prosedur memang baik, bagaimana jika kita lupa beberapa struktur urutannya? Buku penuntun karya ilmiah dibuat untuk itu bukan?</p>
<p>Diberikan pula suatu bacaan puisi, kita disuruh memilih satu dari antara 5 pilihan perasaan apa yang ada dalam puisi tersebut? Dalam pilihan gandanya banyak sekali jawaban mirip seperti: menggebu-gebu, semangat, dll &#8212; dan inilah contoh nyata kejahatan pendidikan, membunuh secara terang-terangan pikiran peserta didik. Kenapa pembuat soal terlalu memaksakan pikirannya? Sungguh egois dan sadis bukan.</p>
<p>Dan banyak lagi kejanggalan-kejanggalan lainnya, seperti yang dikatakan Pak Urip diatas, struktur Bahasa Indonesia sangat ditekankan. Terkesan murid dianggap sebagai ahli bahasa yang setiap hari berkutat dengan struktur kebahasaan. Salah struktur kebahasaan bukan masalah, salah mengartikan arti pembelajaran adalah masalah sesungguhnya</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: Arif Kurniawan</title>
		<link>http://winerwin.wordpress.com/2007/03/07/guru-pun-takluk-kepada-un/#comment-112</link>
		<dc:creator>Arif Kurniawan</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 09 Mar 2007 16:36:48 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://winerwin.wordpress.com/2007/03/07/guru-pun-takluk-kepada-un/#comment-112</guid>
		<description>Eh Mas, ada contoh nggak soal UN mata-pelajaran Bahasa Indonesia  yang jawaban dan pertanyaannya aneh itu?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Eh Mas, ada contoh nggak soal UN mata-pelajaran Bahasa Indonesia  yang jawaban dan pertanyaannya aneh itu?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: winerwin</title>
		<link>http://winerwin.wordpress.com/2007/03/07/guru-pun-takluk-kepada-un/#comment-111</link>
		<dc:creator>winerwin</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 Mar 2007 14:15:20 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://winerwin.wordpress.com/2007/03/07/guru-pun-takluk-kepada-un/#comment-111</guid>
		<description>wah saya lagi menambahkan satu paragraf lagi sebelum paragraf penutup sudah ada yang komentar. terima kasih atas komentarnya  Pak Urip!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>wah saya lagi menambahkan satu paragraf lagi sebelum paragraf penutup sudah ada yang komentar. terima kasih atas komentarnya  Pak Urip!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>Oleh: helgeduelbek</title>
		<link>http://winerwin.wordpress.com/2007/03/07/guru-pun-takluk-kepada-un/#comment-110</link>
		<dc:creator>helgeduelbek</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 07 Mar 2007 14:11:54 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://winerwin.wordpress.com/2007/03/07/guru-pun-takluk-kepada-un/#comment-110</guid>
		<description>Sepertinya skenario pendidikan di Indonesia memang bukan pada orientasi mutu yang sesungguhnya, tetepi mutu yang sekedarnya, asal kelihatan bagus. 
Mosok berbahasa di tes dengan pilha ganda yang bisa diterka walaupun tanpa ilmu. Dan untuk bahasa Indonesia biasanya soalnya paling banyak menghabiskan kertas, nyapek2in mbaca. Siswa diuji layaknya akan jadi pakar bahasa saja.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Sepertinya skenario pendidikan di Indonesia memang bukan pada orientasi mutu yang sesungguhnya, tetepi mutu yang sekedarnya, asal kelihatan bagus.<br />
Mosok berbahasa di tes dengan pilha ganda yang bisa diterka walaupun tanpa ilmu. Dan untuk bahasa Indonesia biasanya soalnya paling banyak menghabiskan kertas, nyapek2in mbaca. Siswa diuji layaknya akan jadi pakar bahasa saja.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
