Menonton tayangan National Geographic: Wild Indonesia, langsung saja saya teringat akan kekayaan alam Indonesia yang patut diacungi jempol. Orang barat pun mengakui keindahan alam Indonesia, disebutkan bahwa tidak ada negara lain di dunia yang mempunyai macan dan kangguru sekaligus dalam wilayahnya; artinya jelas bahwa Indonesia adalah negara dengan jumlah keanekaragaman hayati terbaik di dunia, bahkan lebih baik dari Afrika.
Semua penduduk Indonesia tahu, kalau Nusantara dianugerahi alam yang luar biasa mewah dari Sang Pencipta. Semua orang mengakui kalau di Indonesia, tongkat dilempar ke tanah pun dapat tumbuh. Tapi kenapa ada saja sebagian masyarakat Indonesia yang merasa malu akan ke-Indonesiaannya? Malu karena Indonesia tidak se-glamour Amerika atau negara-negara Eropa lainnya. Malu karena di Indonesia merajalela korupsi dan ekonomi yang kurang dibandingkan negara-negara superpower tersebut. Tidak lain itu adalah pengaruh media yang dikuasai oleh Amerika, media tersebut memang besar pengaruhnya dalam memprogram pikiran penduduk dunia, ambil saja contoh saluran musik televisi yang dicap sebagai program tv anak gaul. Itu saja sudah besar pengaruhnya bukan?
Betul, kita patut kecewa akan kondisi negara kita saat ini, namun kecewa bukan berarti malu! Kecewa bisa berarti positif, karena kita tidak suka akan kondisi politik ataupun ekonomi di Indonesia, kita merasa terdorong untuk memperbaiki keadaan agar hilang kekecewaan kita. Sebaliknya bersikap malu lebih banyak negatifnya, masyarakat menjadi tidak peduli dengan negaranya, ingin segera jauh-jauh meninggalkan negaranya, kalaupun masih menetap, sikapnya tidak akan memberikan prestasi yang signifikan karena sudah terlanjur malu.
Padahal apa? Kita sesungguhnya patut bangga bertanah air Indonesia sebagai bangsa besar dan dipercaya oleh Sang Pencipta untuk menjaga kekayaan keanekaragaman hayati. Buka mata, Indonesia tidak selalu negatif, jangan hanya termakan cemoohan orang-orang tentang Indonesia. Lihat sisi terangnya juga! Sayang sekali kalau keindahan alam dan keunikan budaya di Indonesia tidak diakui oleh bangsanya sendiri. Sebaliknya, bangsa barat lah yang jauh-jauh datang, meneliti, dan mendokumenterkan keindahan yang luar biasa ini, yang oleh si empunyanya sendiri tidak dianggap.
Teringat juga akan ke-tidak-pedulian anak bangsa terhadap tanah airnya sendiri. Sejak tahun 1980, marak terjadi perdagangan pasir untuk reklamasi wilayah Singapura di pulau-pulau terdepan Indonesia yang berbatasan dengan Singapura. Menjual pasir sama saja dengan menjual tanah air! Dimana harga diri mereka sebagai bangsa Indonesia? Bahkan pemerintah daerah Riau pun menyetujui perdagangan pasir tersebut dengan alasan yang menurut saya sangat bodoh: “Perdagangan pasir tidak merusak lingkungan kok. Kalau merusak lingkungan itu artinya kan tanah itu tidak bisa ditanami lagi, lah ini kan masih bisa ditanamai. Lagipula pasir adalah sumber pendapatan asli daerah kami yang sangat penting!” Alasan macam apa itu? Jadi dia menjual sendiri tanah airnya hanya untuk segelintir uang yang tidak seberapa dibandingkan dengan kedaulatan sebuah negara. Bayangkan, dibalik iklan-iklan resor, pariwisata negeri Singapura yang terkesan mewah itu, bermiliar ton tanah Indonesia hilang! Sangat memprihatinkan. Untunglah kini sudah muncul undang-undang yang melarang ekspor pasir kemanapun juga. Walaupun terlambat, itu jauh lebih baik daripada terus mengikis wilayah sendiri bukan?
Akhir kata, ayo kita mencintai dan menghargai tanah air kita sendiri. Indonesia membutuhkan keahlian anda semua untuk menjadikannya lebih baik. Kekuatan dunia selalu bergeser, masih bergelar macan ompong, bukan tidak mungkin Indonesia menjadi macan yang sesungguhnya!
2 tanggapan so far ↓
leeloos // Maret 19, 2007 pada 8:44 am |
Wah, bersemangat sekali …
Saya bangga menjadi orang Indonesia!
Btw, kalo bicara tentang macan, pikiran saya langsung ke PERSIB …
qiqiqiq
passya // Maret 31, 2007 pada 6:11 am |
yah….masih versi beta….yg final release dong